Jangan Lakukan Hari Tanpa TV

rani's picture

OK, coba menulis dalam bahasa Indonesia, deh.

Beberapa Blogger Indonesia, seperti Priyadi, Lita, dan Jay Yulian akhir-akhir ini aktif mempromosikan Hari Tanpa TV. Sebenarnya kampanye mematikan TV bukan hal baru. TVTurnoff Network sudah melakukannya sejak 1994 di Amerika. Kami pun turut mempromosikannya sejak tahun lalu, tapi saat itu gaungnya tidak sekencang seperti yang dipromosikan para Blogger Indonesia tahun ini.

Yang saya cukup terkejut dalam membaca tulisan mereka, adalah, betapa sulitnya melepaskan diri dari kungkungan TV. Bahkan menurut Jay, "masyarakat tanpa sadar telah menuhankan TV". Apa betul, sebegitu sulitnya? Nampaknya demikian. Dan bukan hanya orang Indonesia, sepertinya hampir semua orang yang kami kenal akan mengerenyitkan dahi begitu tahu bahwa kami tidak punya TV di rumah. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul antara lain, "Jadi, di rumah ngapain aja?" "Lantas, sofa ruang tengah ditaruh menghadap mana?", menunjukkan betapa sentral-nya peran TV di kehidupan sehari-hari.

Sejak hidup tanpa TV tahun 2002, bagi kami, rasanya membebaskan. Jadwal hidup kami tidak lagi dikontrol oleh jadwal tayang acara-acara prime time. Awal mulanya adalah karena kami pindah ke rumah baru yang minim perabot, dan dalam rangka penghematan kami hanya membeli perabot yang benar-benar perlu. Saat itu kami menunda membeli TV. Pada hari-hari awal, terjadi withdrawal syndrome pas jam siaran acara TV favorit kami. Hari-hari berikutnya, mulai pasrah dengan keadaan. Tetapi setelah itu, muncul rasa terbebaskan dari sesuatu yang mengungkung. Dan akhirnya, kami betul-betul gak mikirin ada TV atau tidak (Kecanduan kami beralih kepada broadband internet, tentunya). Lucunya, biarpun tidak ada lagi jadwal untuk nonton TV, waktu 24 jam rasanya masih kurang aja untuk berkegiatan. Heran...

Pelajaran yang kami tangkap adalah bahwa Sehari tanpa TV tidak cukup. Paling tidak, harus dicoba seminggu tanpa TV untuk tahu seberapa tergantungnya anda dengan TV. Kalau seminggu bisa tahan, salut deh, itu adalah langkah pertama untuk mendapatkan kembali kontrol diri terhadap kecanduan TV. Jadi, Jangan lakukan Hari Tanpa TV, tetapi, cobalah Minggu tanpa TVTentunya, ada pilihan lain untuk mengatasi kecanduan TV: Kill Your TVBuang TV ke tempat sampah (atau sumbangkan ke instansi pemerintah).

Orang bilang, TV ada positif dan negatifnya. Tetapi menurut kami, sekarang ini negatifnya lebih banyak, karena sudah banyak alternatif lain penyampaian informasi selain TV. Dalam jangka waktu yang sama, misalnya 30 menit, anda bisa belajar sedikit mengenai gajah di acara dokumenter alam, tetapi 30 menit anda dapat baca banyak informasi yang lebih ekstensif mengenai gajah di internet. Entah mengapa TV merenggut banyak kewenangan dari pemirsanya. Anda dipaksa mengikuti jadwal acara favorit anda. Anda dipaksa untuk menonton iklan. Anda dipaksa untuk menyerap berita yang anda tidak perlukan. TV pun berbeda dengan Film, setidaknya menonton film anda mampu matikan pemutar DVD atau keluar dari bioskop. Bahkan TV pun berbeda dengan radio, meski keduanya produk siaran, radio dapat diputar menjadi musik latar kegiatan anda dan tidak melumpuhkan indra anda 100%. Entah mengapa TV rasanya selalu mengejar-ngejar, dan melumpuhkan pemirsanya.

Sepertinya dalam 10 tahun kedepan media TV akan menjadi ketinggalan jaman, seiring dengan majunya internet dan munculnya "entertainment" yang lebih bersifat "on-demand". Tapi akankah media baru menimbulkan ekses negatif seperti TV? Sepertinya tanda-tandanya sih ada, buktinya kami sekarang di sini sangat kecanduan internet. Gak kebayang rasanya hidup tanpa "broadband connectivity".

Comments

eMpTyV

Sehari memang tidak ada apa-apanya. Itu cuma simbol perlawanan. Dan, seperti kata V (Vendetta), simbol menjadi kuat kalo kita memaknainya :D

Sama seperti gerakan sehari tanpa rokok. Ga ngefek sih, tapi kalo orang banyak melakukannya, bisa mempengaruhi jalannya pengambil kebijakan.
Yah, api revolusi merupakan gabungan nyala satu korek api :D

Rumah tanpa tv sering

Rumah tanpa tv sering dianggap aneh ya ama banyak org. tapi sejak beberapa tahun belakangan, gw mulai mengurangi ketergantungan tv. Rumah kami pun gak bakal dipasang tv. Tapi sebenernya gw banyak punya temen yang rumahnya juga tanpa tv kok, kehidupan tetep berjalan baik-baik aja tuch...Yang sampai sekarang masih jd pemikiran gw, sepak bola Piala Dunia kemaren dinikmati tanpa nonton tv , seru gak sih?! :)

masukkan saja ke gudang

masukkan saja ke gudang, nanti klo kangen diambil lagi :-)

dugh, secara daku kerja di

dugh, secara daku kerja di kantor TV. bakal gag dapet iklan neeh.. :(

i personally

i personally love tv, the always-magical-box inside my living room. don't blame them for all the bad things happening in the world. pop culture must live and they will live. viva la pop culture heheh

wah, di singapur sih enak.

wah, di singapur sih enak. disini broadband 24 jam masih barang super mewah :)

Hidup Spongebob!!

Hidup Spongebob!!
*loh?!*

iptv

mungkin saatnya mbak Rani mencoba IPTV service, belum ada sih di Singapore, di Jakarta katanya sih mau diluncurkan by end of '07. Dengan IPTV, subscriber lebih mempunyai pilihan karena tidak harus melulu "nongton" TV tapi juga bisa surf internet, chatting, maen games ... tapi yah kalau udah keseringan sih ya kecanduan juga :)

ngga masalah

gw udah sering ngga nonton tipi...

agak aneh kalo sekarang malah harus nonton tipi :p

Gak menuhankan TV tapi

Gak menuhankan TV tapi mendewakan broadband.. BUkankah itu setali tiga uang?

I love TV so much, with TV u wont feel alone though you are..
Lagian gak semua org bisa dapet akses internet kan..

by the way, no hard feeling ya, mbak! ;-)

aku jg udah bebas dr kecanduan tv

aku jg udah bebas dari yang namanya kecanduan siaran tv, dan bahkan justru semakin anti ama tv, terutama acara2 yg gak mutu. awalnya mirip ama kasus mbak, lama ga nonton tv karena ga ada akses ke tv. lama kelamaan terbiasa dan akhirnya sekarang malah ga suka nonton. mending internetan.. hehhe tp klo ada kampanye seminggu tanpa internet wew itu gmn ya

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.