Sending Troops to Lebanon while Country Remains Poor and Undeveloped

indi's picture

I am expressing my disappointment in Indonesian government for spending so much money on something that I believe should be left alone.


Indonesia Offers Peacekeepers for Lebanon


"President Susilo Bambang Yudhoyono has won the approval of the Indonesian parliament to send peacekeeping troops to Lebanon to help enforce U.N. resolution 1701. The resolution resulted in a ceasefire between Israel and Hezbollah, and gave a mandate to the U.N. to deploy peacekeeping troops in southern Lebanon."

"The army has been in preparation for two weeks now and Yudhoyono's son, who serves as a military officer, is also included in its forces. The operation is expected to cost 380 billion rupiahs (US$ 42 million)."

Does that mean that people in Lebanon are more important than the livelihood of millions of Indonesians living in poverty?

Perhaps I should share with you something quite shocking from this source:

Writing in the Asia Times journalist Bill Guerin suggests that Indonesia is the least educated country in Asia. The facts of the case:
-0.03% of workers have tertiary qualifications.
-61% of 12-15 years olds do not go on to attend secondary school.
-80% of Indonesians have only primary school education.

Imagine how many schools and hospitals can be built in the remote islands of Indonesia with US$ 42 million cash.

With short sighted government leaders like what we have today, no wonder Indonesia is the least educated country in Asia. We spent too much money on some other people's defense.

*Even if the budgetary aspect is already justified, perhaps we shall look into TNI Neutrality in Lebanon

------

Additional note on 5 September 2006:

Impressive,
Minister Juwono Sudarsono gave me a reply and provided some explanation on this issue. Here is what he wrote to me:

Bung Masindi,

Sending RI troops on UN-PKO missions began in 1957. To date we have sent 23 Garuda peacekeeping missions from the 1950s through 2005 in the MidEast, Africa and Asia, each time by Indonesian governments facing difficult economic circumstances.

In any case, most of the USD 40 million cost would be reimbursed by the UN. In consultations with President SBY the other day Parliament agreed that Indonesia's role in Lebanon would be "priceless."

Let's honor Indonesia's fine tradition in UN peacekeeping and be proud that our soldiers, sailors, marines and airmen have always been "the best of the best" in UN peacekeeping. J.S.

Posted by Juwono Sudarsono on September 03, 2006

Comments

Sudah kewajiban kita

Kalau kita tidak mau membantu bangsa lain, kita sebaiknya tidak terlalu berharap dibantu.
Kalau ada bencana alam lagi, kita nggak perlu lagi teriak2 minta bantuan.

Kewajiban kita ...

[quote=Satoto]Kalau kita tidak mau membantu bangsa lain, kita sebaiknya tidak terlalu berharap dibantu.
Kalau ada bencana alam lagi, kita nggak perlu lagi teriak2 minta bantuan.[/quote]

Kalau kita bicara ttg kewajiban, mas Satoto yang budiman, adalah kewajiban kita juga untuk menyediakan fasilitas pendidikan untuk anak-anak bangsa kita agar mereka nantinya menjadi manusia-manusia yang mandiri (tidak terlalu menggantungkan diri dan kehidupannya pada orang/bangsa lain), dewasa (tidak kekanak-kanakan dalam cara berpikir dan bertingkahlaku), bertanggungjawab (berani mengakui kekurangan/kesalahannya, juga tidak takut terhadap yang kuat dalam upaya melindungi yang lemah, berani mengambilalih/memikul tanggungjawab pada saat yang tepat, tidak pengecut), kaya (baik spiritual maupun material, tidak pelit) ... dan seterusnya ...

Anak-anak bangsa yang seperti ini pasti juga memikirkan dan berusaha membantu sesamanya yang tertindas, yang kurang beruntung, seperti mereka yang saat ini sedang menderita di Timur Tengah atau di bagian lain dunia ini.

Kewajiban kita ...

Kalau kita bicara ttg kewajiban, mas Satoto yang budiman, adalah kewajiban kita juga untuk menyediakan fasilitas pendidikan untuk anak-anak bangsa kita agar mereka nantinya menjadi manusia-manusia yang mandiri (tidak terlalu menggantungkan diri dan kehidupannya pada orang/bangsa lain), dewasa (tidak kekanak-kanakan dalam cara berpikir dan bertingkahlaku), bertanggungjawab (berani mengakui kekurangan/kesalahannya, juga tidak takut terhadap yang kuat dalam upaya melindungi yang lemah, berani mengambilalih/memikul tanggungjawab pada saat yang tepat, tidak pengecut), kaya (baik spiritual maupun material, tidak pelit) ... dan seterusnya ...

Anak-anak bangsa yang seperti ini pasti juga memikirkan dan berusaha membantu sesamanya yang tertindas, yang kurang beruntung, seperti mereka yang saat ini sedang menderita di Timur Tengah atau di bagian lain dunia ini.

Kewajiban kita ...

Kalau kita bicara ttg kewajiban, mas Satoto yang budiman, adalah kewajiban kita juga untuk menyediakan fasilitas pendidikan untuk anak-anak bangsa kita agar mereka nantinya menjadi manusia-manusia yang mandiri (tidak terlalu menggantungkan diri dan kehidupannya pada orang/bangsa lain), dewasa (tidak kekanak-kanakan dalam cara berpikir dan bertingkahlaku), bertanggungjawab (berani mengakui kekurangan/kesalahannya, juga tidak takut terhadap yang kuat dalam upaya melindungi yang lemah, berani mengambilalih/memikul tanggungjawab pada saat yang tepat, tidak pengecut), kaya (baik spiritual maupun material, tidak pelit) ... dan seterusnya ...

Anak-anak bangsa yang seperti ini pasti juga memikirkan dan berusaha membantu sesamanya yang tertindas, yang kurang beruntung, seperti mereka yang saat ini sedang menderita di Timur Tengah atau di bagian lain dunia ini.

Tanggun jawab kita menurut UUD 1945

Untung saja Pembukaan UUD 1945 tidak diutak-atik. Karena tidak saja "Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsajuga" tetapi juga "ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial".

Jadi memang ada jatahnya masing-masing. Dan ingat, sejak tahun 1957 kita sudah mengirimkan Kontingen Garuda (Konga) yang pertama ke Mesir dan beberapa Konga yang lain ke Timur Tengah. Biang Kerok-nya tetap sama: Israel.

Alasan lain adalah fakta bahwa negara-negara Arab merupakan negara-negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pasukan_Garuda

Netralitas TNI? Hmmm, bagaimana dengan netralitas bangsa kulit putih yang sudah pasti pro Israel?

Soal statistik, jangan lupa angka-angka yang kurang dari satu persen itu harus dikali dengan sekitar 220 juta penduduk Indonesia.
0.03%*220,000,000=6,600,000 orang dengan kualifikasi tersier. Melibihi penduduk Singapura, bukan? Yah, memang sayangnya jumlah tidak selalu terkait dengan mutu. Sigh...

Peduli Sesama

Memang agak aneh rasanya jika bangsa kita yang masih lemah ingin membantu bangsa lain. Tapi tidak berlebihan bagi saya, justru saya mendukung Presiden SBY dalam campaignnya mengutus TNI ke lebanon. Apakah dengan lemahnya bangsa kita, lantas kita tutup mata dari teriakan anak-anak dan warga sipil di Timur Tengah?? detik-detik mereka dihantui penderitaan, kelaparan, kemiskinan, penjajahan, pengusiran dari negeri sendiri. Lihatlah, negara-negara Islam sepertinya mulai diprotoli satu-persatu. Mulai dari Palestine, Afghanistan, Irak, Chezhnya, Pakistanl, Lebanon, menyusul Iran. Mereka dituduh teroris! Sayangnya yang menuduh belum mendapat bukti. Amerika menyerang Irak karena ada isu bom nuklir buatan Irak. Kini setelah Irak hancur lebur, sampai saat ini pun Amerika tidak bisa menunjukan bukti dari isu tersebut. Mengapa kita harus merasa aman? sementara setelah negara-negara islam di Timur Tengah hancur, negara kita adalah yang berikutnya.

koreksi

1. Dana untuk operasi pasukan perdamaian pbb tidak dikeluarkan oleh negara penyedia pasukan perdamaian, melainkan oleh pbb. Jadi dalam hal ini SBY tidak melakukan pemborosan.

2. Pengerahan pasukan perdamaian memberikan beberapa keuntungan buat RI:
a. Meningkatkan kemampuan diplomacy negara kita di level internasional.
b. Pengalaman/Latihan untuk pasukan TNI yang dikerahkan.
c. Penghasilan tambahan untuk para prajurit kita yang notabene berpenghasilan rendah.
d. Apabila tugas dilaksanakan dengan gemilang, mengharumkan nama baik negara.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.