Hutang saya pada Inong

rani's picture

Saya gak tau gimana menggambarkan emosi saya. Kesedihan di hati karena kepergian Inong rasanya menusuk sekali, tetapi saya tidak menangis. Memang saya tidak bisa menangis kalo sedih (Karena hanya bisa menangis di saat marah saja), tapi kali ini kepala rasanya sakit, tenggorokan tercekat, dan rasanya ingin murung terus. Masih antara percaya dan gak percaya, bisa-bisanya seseorang yang begitu ceria dan energik, masih muda, bisa pergi begitu saja. Selain sedih, ada juga rasa kecewa yang dalam kepada diri saya sendiri, karena saya masih berhutang dengan Inong. Ia minta dibawakan oleh-oleh dari perjalanan saya bulan lalu, dan saya sudah siapkan beberapa batang coklat buatan tangan. Tetapi saya selalu menunda-nunda untuk bertemu dia dan menyampaikan buah tangan itu. Saya selalu berpikir nanti saja, karena sepulang perjalanan itu memang saya langsung ditimpa kesibukan kampus. Lagipula Inong mengajak Noe datang ke pesta ulang tahun Syifa tanggal 2 September, jadi saya pikir di sana sajalah saya sampaikan oleh-oleh tersebut. Tidak disangka pesta itu tidak pernah terjadi, dan coklat masih tersimpan di dalam lemari.

Tanggal 30 Agustus, setelah berminggu-minggu panas kering, Singapura diterpa hujan besar. Cuaca yang murung itu ditambah lagi berita buruk dari Hany bahwa Inong pingsan dan dibawa ke RS NUH. Tetapi tulisan di blog Hany sangat mengkhawatirkan, seakan-akan Inong sudah diujung maut. Maka saya segera menelpon Hany dan diceritakanlah detail kejadian menjelang maghrib itu.

Betapa gemas dan geramnya saya diceritakan oleh Hany bahwa ambulans terlambat datang, dua puluh menit lebih setelah ditelepon untuk datang. Singapura, yang katanya negara maju, tidak bisa mendatangkan ambulans dengan cepat. Sebal sekali, dan sedih karena keterlambatan itu mengakibatkan kondisi Inong yang sangat parah. Tetapi untunglah Hany berkata bahwa saat ini kondisinya sudah stabil meskipun masih kritis. Karena keadaan sudah cukup tenang saya menunda kedatangan ke rumah sakit hingga esok harinya.

Sejak pingsannya Inong, Singapura terus hujan tidak berhenti selama dua hari setelah itu. Kadang deras dan kadang rintik rintik.

Besoknya, tanggal 31 Agustus, adalah hari ulang taun Syifa. Kondisi Inong tidak membaik, tetapi jantungnya tetap berdetak dengan stabil. Saya dan ibu-ibu menunggu di ruang tunggu ICU NUH sejak tengah hari bersama anak-anak. Praktis ruang tunggu itu sudah jadi taman bermain! Ibu-ibu mengadakan acara tiup lilin untuk Syifa dan makan-makan di ruang tunggu ICU. Tadinya, acara ini mau diadakan di ruang rawat ICU sebagai upaya untuk menstimulasi Inong, tetapi dilarang oleh dokter, dengan berbagai alasan teknis. Selain itu, Syifa juga agak gelisah mencari Bundanya terus. Zidan dan Syifa baru berkesempatan menengok ibunya pada hari itu, dan mereka hebat sekali menghadapi situasi ini, mereka tabah sekali. Zidan berkata pada Umminya, "Bunda udah dikembaliin nyawanya ya Ummi". Lantas, Zidan juga mencoba membangunkan Bundanya. Kemudian sore harinya, datang juga berita buruk bahwa dokter sudah angkat tangan. Suasana menjadi sangat curam dan hujan tidak berhenti. Tetapi berpuluh-puluh ibu dan bapak membanjiri ICU untuk memberi doa dan dukungan.

Pagi 1 September saya bangun disambut cuaca cerah. Ternyata berhentinya hujan adalah pertanda perginya Inong. Banyak sekali yang mengantar dari rumah sakit, ke persemayaman, hingga ke airport. Zidan sangat tegar, ia tabah. Saya dengar dari Teh Ami, Zidan berkata, “Zidan suruh Bunda pergi, karena Zidan kasian sama Bunda. Sekarang Ummi Zidan yang jaga”. Dewasa sekali Zidan, berkat didikan Bunda-nya.

Secara teknis, seharusnya kondisi Inong bisa menyebabkan dirinya langsung meninggal tanggal 30 Agustus itu. Bayangkan, 30 menit tanpa oksigen. Tetapi tim medis berhasil menghidupkan kembali detak jantungnya, dan Inong bertahan hingga 1 September, persis enam jam setelah hari ulang tahun Syifa anaknya tanggal 31 Agustus. Selain itu, Inong wafat beberapa menit setelah suaminya tiba di rumah sakit, sepertinya ia menunggu untuk berpamitan dengan suaminya secara langsung. Ia sungguh seorang ibu dan istri yang sangat berdedikasi hingga akhir hayatnya. Ummi bercerita, saat Inong terserang asma, Inong berkata bahwa ia belum mau pergi, sebab masih ingin merawat anak-anak dan suaminya. Kemudian Inong berpesan menitipkan anak-anak pada Ummi, sebelum kehilangan kesadaran. Barangkali, di alam sana, Inong bernegosiasi dengan Tuhan untuk mem-postpone sebentar kepergiannya, sehingga ia sempat “dikembalikan” untuk “menghadiri” ulang tahun Syifa.

Saya belum sempat untuk bersahabat jauh lebih dekat dengannya, tetapi sekarang sudah terlambat, dan saya sangat menyesali menunda bertemu dengannya untuk menyampaikan oleh-oleh. Maafkan saya, Inong, karena “procrastination” saya. Hutang saya pada Inong sangat mengganjal hati saya dan ada sedikit ketidakrelaan untuk melepaskan dia.

Inong adalah salah satu figur yang saya kagumi, seorang ibu rumah tangga yang pintar, berbakat, super aktif dan kreatif. Zidan, Syifa, ketahuilah bahwa Inong adalah ibu yang sangat mencintai keluarganya, tetapi juga tidak kekurangan waktu untuk selalu memberi perhatian pada orang-orang di sekitarnya baik secara virtual maupun di dunia nyata. Saat ipar saya, Anggi dan Siska, menikah, Inong menyumbangkan puisi bersama rekan-rekan Cybersastra.

Ia tulus, tidak pelit ilmu, dan juga tidak pilih-pilih teman. Entah dari mana energi yang dia miliki untuk berkegiatan dan menumpahkan cinta kepada sekitar. Saking energiknya, saya tidak tahu kalau dia memiliki sakit asma yang cukup parah. Rupaya Tuhan sangat mencintai dia sehingga memanggilnya lebih dulu dari kita semua. Hanya seminggu menjelang ulangtahunnya yang ke-33. Bumi tampak ikut bersedih dengan turunnya hujan saat Inong jatuh sakit hingga kepergiannya. Kenapa Orang baik selalu mati muda? Selamat jalan, bahagialah di sana, semoga kita bisa berjumpa lagi nanti, agar aku bisa membayar hutangku padamu.

Comments

Begitulah.....

Begitulah hidup, Ran. Tulisannya gue copy paste utk dibukukan, yah. Nanti disampaikan ke Haris.

turut berdukacita, walaupun

turut berdukacita, walaupun ga kenal Inong. I guess it's hard to loose a friend and most of the time we learn after something bad happens. In my case, after loosing a good friend, all I can do is to take care people I love around me and always remember them as the most important than anything in this world.

Kebetulan dihari minggu pagi

Kebetulan dihari minggu pagi ini saya membaca tulisan Rani yang kehilangan seorang teman yang rupanya dekat sekali dengan Rani. Saya turut bersedih atas kepergian teman baik Rani ini sekalipun secara pribadi saya belum kenal. Saya yakin bahwa Inong sudah nerada disamping Bapak Yang Mahakuasa dan semoga keluarga yang ditinggalkan akan tabah menghadapi cobaan ini.

Adalah suatu hal yang biasa kalau masyarakat (juga di Amerika dan Eropah) harus menunggu sampai dua puluh menit untuk menunggu kedatangan ambulance atau ambulance helicopter dalam keadaan darurat kesehatan. Yang saya kurang mengerti adalah adalah mengapa seseorang yang menderita asthma tidak mendapat terapi seumur hidup yang dinamakan "maintenance" dan kalau perlu "emergency" yang siap digunakan dirumah atau dimanapun dalam bentuk "inhaler" dalam keadaan darurat sebelum dikasih "respiratory therapy" dirumah sakit. Ini yang saya sesalkan bahwa persoalan semacam ini bisa terjadi di Singapore yang katanya mempunyai "health care system" yang "lebih baik" dari Amerika Serikat.

Ada Kok...

mas Anonimus, ada kok. Inong biasa make nebu sendiri di rumahnya.

I'm so sorry to hear bout

I'm so sorry to hear bout it..
My deepest condolences...semoga rohnya dicucuri rahmat dan dia berada di tempat orang orang yg beriman..Amin..

I'm so sorry to hear bout

I'm so sorry to hear bout it..
My deepest condolences...semoga rohnya dicucuri rahmat dan dia berada di tempat orang orang yg beriman..Amin..

mas anonimus.. tolong dong..

mas anonimus.. tolong dong.. kalau serangan asma sudah parah banget, inhaler atau nebulizer pun sudah gak pengaruh karena jalan napas yang memang udah nutup, karena itu yang diperlukan adalah suntikan steroid langsung di rumah sakit, jadi memang perlu ambulans.

Boleh nggak ???

Mbak Rani, saya Denti salah satu teman SMAnya Inong di Jakarta, boleh nggak tulisan ini saya copy paste untuk teman-teman saya di Millis karena mereka juga ingin tahu kronologisnya waktu di Singapura ....
Kita sama-sama ngerasa kehilangan dia banget terutama cerita mengenai anak-anaknya...

Salam
Denti

asthma attack

Semua penyakit dapat di-kategorisasi-kan dalam tiga tingkat; mild-medium-acute. Demikian juga untuk asthma. Untuk asthma yang acute, termasuk COPD/Chronic Obstructive Pulmonary Disease, pasien bersangkutan harus mendapat maintenance treatment setiap hari seumur hidup dengan menggunakan inhaler mengandung broncho-dilator dan anti inflammatory agent (steroid). Disamping itu pasien harus dipersiapkan untuk keadaan darurat dengan broncho-dilator yang kuat sekali disertai oxygen blood saturation device (dipasang di jari telunjuk). Dan yang maha penting adalah bahwa pasien harus dilengkapi dengan oxygen tank kemanapun dia pergi dengan repirator supaya tidak fatal sebelum dibawa ke ER. Oxygen repirator ini mutlak diperlukan untuk meninggikan oxygen partial pressure untuk pasien yang sedang mengalami asthma attack.

Saya bukan memberi kritik terhadap primary medical health care Singapore, tetapi meninggalnya Inong - yang sangat saya sesalkan - adalah suatu kesalahan medis. Primary health care physician must be responsible!! In the US this is a case of law suit.

Mohon Ijin Mengutip

Halo Rani, Salam kenal yaa...
Mbak, saya Wiwit. Atas nama tim buku memoir Inong Haris, mau minta ijin mengutip komentar Mbak Rani tentang "kepergian" Bunda Inong. Rencananya komentar itu akan kami susun dalam bagian komentar/kesan orang2 yg mengenal Inong. Boleh ya mbak? :)
Sekilas tentang pengerjaan buku ini bisa dilihat di sini http://wehaz.multiply.com/journal/item/91
Kami tunggu kesediaannya ya mbak di wiwit.wijayanti@gmail.com
Terima kasih banyak.

selamat jalan

empat tahun sudah ya bunda Inong di sisi Allah.. saya baru mengenalnya, telat ya? saya sudah kirim doa......
thax atas ceritanya kak...

teringat kembali...

Hay Mba Rani,

Salam kenal, tanpa sengaja saya menemukan blog mba tentang tulisan Bunda Inong (Alm), membaca tulisan ini, membuat saya ingat kembali.

Semoga semua amal kebaikkan beliau diterima Allah SWT. Amin.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.