Quick Thought on a Pro-Family World

rani's picture

This is just my quick thought on a Pro-Family World, after a discussion with Ari-Thalia and responding to a discussion in ASIforBaby Yahoogroups. As I was quickly jotting down my thoughts on the issue, it was rambling, disorganized, and not well-researched. And perhaps it's also politically incorrect or may be offending to some people, hence I apologize before hand if it is indeed the case. I decide to publish it here so that I won't forget, and hopefully I would be able to write more about this issue.

Begin quoting from ASIforBaby Yahoogroups.

Kalo saya ngeliat masalah FTM (Full Time Mother) vs WM (Working Mother) itu masalah yg lebih gede lagi yaitu masalah norma sosial..

Masalah pertama, pemisahan antara urusan domestik dan urusan publik. Entah kenapa, norma sosial kita cenderung mendomestikasi urusan membesarkan anak (hamil, menyusui, merawat anak). Jadi, urusan2 yang berkaitan dengan itu dibatasi untuk berlangsung di lingkungan dalam rumah aja. Sedangkan urusan pekerjaan, bisnis, mendominasi dunia luar tanpa boleh terjamah oleh urusan membesarkan anak. Thus, wanita yang memilih jalur membesarkan anak sering terjebak norma sosial tersebut.

Padahal, coba dipikir lagi, apa iya anak kecil harus di dalam rumah terus? Waktu dulu, jaman revolusi industri baru mulai, mungkin iya, karena lingkungan kerja memang berbahaya utk anak (polusi, mesin2 berbahaya etc). tapi jaman sekarang, teknologi yang udah maju, dan kebanyakan dari kita di milis ini sebagai white-collar worker environment, yang tidak berbahaya untuk anak. Tetapi mengapa masih ada "stigma" bahwa membesarkan anak adalah urusan tertutup dalam rumah?

Masalah kedua adalah, bahwa kegiatan membesarkan anak tidak membawa keuntungan ekonomi. Wanita yang memilih dari FTM dianggap sebagai "cost" terhadap ekonomi karena dilihat sebagai angkatan kerja yang tidak bekerja (unemployed). Padahal, kalo dipikir, membesarkan anak dengan ASI dan dengan purna waktu bisa jadi membawa keuntungan ekonomi jangka panjang. Sayangnya belum ada riset ilmiah / riset ekonomi mengenai ini.

Jadi, dengan dua masalah ini, wanita dihadapkan dengan pilihan yang lose-lose dalam situasi ini. Jika memilih jadi FTM, ada stigma bahwa FTM tidak bergaul di luar. Jika memilih jadi WM, waktu untuk anak seringkali kurang banyak, apalagi bepergian ke tempat kerja di Jakarta sangat menyita waktu. Tidak ada best-case scenario, bagi si ibu. Semua pilihan membawa efek negatifnya sendiri. Karena itu bisa jadi banyak wanita memilih untuk tidak punya anak.

Lebih jauh lagi untuk kedua orang tua. Jika ibu memilih jadi FTM, bapak harus bekerja duakali lebih keras. Walhasil si bapak memiliki waktu lebih sedikit untuk anak. Interaksi anak dengan ibu dan bapak jadi tidak seimbang. Bahkan ada beberapa bapak yang menganggap pengasuhan anak sebagai penghalang kesibukan. Tapi mau gimana lagi, inilah yang umum terjadi di jaman ini, dan banyak orang harus mengambil pilihan seperti ini.

Karena itu kami (Indrani) di sini berusaha mendobrak stereotipe pengasuhan anak. Caranya sebisa mungkin mengajak anak dengan kegiatan2 yang kita lakukan di luar. Contohnya, saya sebagai FTM mengajak bayi saya (3bln) ke seminar ilmiah, dan orang2 melihat dengan heran karena ternyata anak bisa dibawa ke kegiatan seperti ini. Contoh lain teman saya yang berprofesi sebagai web developer/designer dan ada juga yang sebagai arsitek, sehingga bekerja dari rumah. Mereka mengasuh anak dan mengurus rumah tanpa pembantu atau BS. Mereka membawa anak untuk pertemuan dengan klien, membawa anak ke pameran seni dan pertemuan dengan rekan2 designer. Bahkan mereka membawa anak ke Bar utk dugem di malam hari (karena bar di singapur bebas rokok), sehingga mereka tetap bisa bersosialisasi. Teman saya ini membagi tugas pengasuhan anak antara ibu dan bapak dengan sangat seimbang dan merata. Nah, kata siapa, anak kecil cuma boleh di rumah?

Mari kita coba bayangkan dunia yang berbeda samaa sekali. Boleh dong, berkhayal?

Di dunia yang ini, tekonologi komunikasi dan transportasi udah canggih banget sehingga ga ada bedanya berada di rumah atau di kantor. Pilihan untuk jadi FTM atau WM sama2 positif.

Ibu yang memilih untuk menjadi FTM tidak terisolasi, dan dengan network yang canggih ibu2 ini bisa membuat homeschooling dengan ibu2 FTM yang lain, sehingga menekan biaya pendidikan anak. Atau bisa juga membantu mengasuh anak2 dari WM untuk dapet penghasilan tambahan. FTM juga dengan sangat mudah bertukar informasi mengenai pengasuhan anak melalui media blog dan forum website (hehe kalo ini udah terjadi dengan milis ini). Para FTM juga bisa mendapatkan akreditasi dan ijazah mengenai menyusui, pengasuhan dan pendidikan anak dengan assessment kualifikasi mereka oleh organisasi FTM. Selepas anak2 besar, para FTM bisa menyumbangkan ilmu mereka pada organisasi ini untuk ibu2 yang baru melahirkan.

Dunia yang ini, sangat ramah dengan anak kecil dan menyusui. Menyusui dan mengurus anak di tempat umum menjadi hal yang biasa. Baik di taman, di busway, di carrefour, kapan saja dan dimana saja bisa menyusui atau mengganti popok anak. Anak dapat bermain dan berlarian di tempat publik dengan bahaya yang sangat minimum.

Dunia yang ini juga sangat ramah dengan WM. Di dunia ini, tidak ada cuti melahirkan! lho kok malah gak ada? Karena ibu2 ini sejak bayinya berumur sebulan membawa anaknya turut bekerja. Ketika anaknya masih bayi dan banyak tidur, bayi ditaruh di tempat tidur bayi di cubicle dan meja ibu, sehingga kapanpun WM bisa menyusui. Sampai mbak2 teller di bank pun membawa anaknya, sehingga mereka menerima nasabah sambil menggendong bayinya. Guru-guru dan dosen menggendong bayinya sambil mengajar. Konsultan membawa bayinya ke rapat klien, dan klien pun membawa bayinya ke rapat.

Ketika anak sudah bisa jalan, WM bisa menitipkan anaknya di penitipan anak di gedung kantor yang sama, yang dikelola oleh para FTM pro-ASI. Karena jumlah WM dan FTM seimbang, di semua kantor ada TPA. WM mendapatkan bantuan pengasuhan anak oleh pengasuh profesional (FTM), dan FTM mendapat penghasilan tambahan. Setiap empat anak diasuh oleh 1 FTM. Di waktu makan siang, WM menyusui anak di TPA. Saat WM mengantor, FTM memberikan ASI perah. Setiap pulang kantor WM mendapat laporan kegiatan dari FTM.

Ketika anak sudah berusia lebih dari 2 tahun, belum sekolah, dan menyusui hanya sedikit, giliran bapak yang mengurus anak sambil ngantor. Ada banyak pilihan pengasuhan anak balita. Bisa dititipkan di TPA di gedung kantor, dan bapak akan selalu mengajak anaknya makan siang atau minum teh di waktu2 istirahat. Atau bisa juga anak ikut mengantor dengan bapaknya, dan ini bukan hal yang aneh. Karena bapak mengenal anaknya dengan baik, bapak lebih bisa menghandle anaknya dan si anak juga akan berusaha mengerti kebutuhan bapaknya. Walhasil, si anak bisa diajak ke meeting-meeting dan ketemu anak2 kliennya. Hasilnya si anak akan mengerti apa yg dikerjakan orangtuanya selama di kantor, dan si anak merasa tidak terisolasi dengan dunia luar. Kalau anak bosan di kantor bisa turun ke TPA di gedung kantor.

Lebih ekstrim lagi, tempat2 dugem pun menjadi ramah anak2. Bebas rokok, dan tersedia playground / tempat tidur untuk anak. Orangtua yang suka dugem tetap bisa bersosialisasi tanpa harus meninggalkan anak.

Hayo, ibu2 apakah ada khayalan mengenai dunia yang ramah anak? silakan ditambahkan. mudah2an khayalan ini bisa terlaksana.

Comments

Setujuuu..

Ran, sebetulnya sedikit2 khayalanmu sudah ada yg jadi kenyataan.. dikantor CERN (European Organization for Nuclear Research) di Genève ada nursery.. jadi ibu2 sebelum ngantor nitipin anak2 kesitu, makan siang bisa bareng anak2, pulang sama2.... coba semua perusahaan gitu yah.. :)

yak, mari kita lebih sering

yak, mari kita lebih sering bawa anak kemana-mana, biar stigma "kids confine you at home" atau "ngurus anak ngerepotin" pelan2 hilang dari muka bumi, diganti dengan "punya anak seru dan menyenangkan". yay!

Hai Rani, saya sudah sering

Hai Rani,
saya sudah sering baca blog ini, menarik. Entry ini mengingatkan saya pada teman-teman di kantor (kami mengajar di sebuah sekolah) yang kadang-kadang membawa bayi-bayinya untuk diasuh sambil mengajar. Bisa ditinggal sebentar di perpustakaan, karena teman-teman akan dengan senang hati membantu mengasuh, atau dibawa ke kelas. Kalau sudah bisa berjalan, bisa dititipkan di kelompok bermain. Hampir semua ibu baru ini juga menyusui sampai pernah ada sekelompok ibu yang suka memeras asi bersama-sama sambil ngobrol, hehehe.
Bekerja dan mengasuh anak, bisa juga kok jalan bareng,... :)

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.