The BBC World Service Business Daily version of my column on reading on the cellphone (The Business Daily podcast is here.)
To listen to Business Daily on the radio, tune into BBC World Service at the following times, or click here.
Australasia: Mon-Fri 0141*, 0741
East Asia: Mon-Fri 0041, 1441
South Asia: Tue-Fri 0141*, Mon-Fri 0741
East Africa: Mon-Fri 1941
West Africa: Mon-Fri 1541*
Middle East: Mon-Fri 0141*, 1141*
Europe: Mon-Fri 0741, 2132
Americas: Tue-Fri 0141*, Mon-Fri 0741, 1041, 2132
Thanks to the BBC for allowing me to reproduce it as a podcast.
Duh, ini blog dan seluruh website saya sempat down beberapa hari nih. Gara2 telat bayar domain, hehe. Jadi malu.
Sekarang, karena sudah bayar, saya jadi semangat mau ngeblog lagi. Walaupun cuma satu post, tapi kan kelihatan kalau saya nggak percuma bayar domain dan hosting.
Tadinya saya mau bikin semacam “kaleidoskop” peristiwa2 yang paling berkesan selama tahun 2009. Tapi kok rasanya banyak hal yang terlalu pribadi ya. Sementara yang cukup “umum” kan sebagian besar sudah sering diceritakan. Ya sutra, ganti topik ah!
Ingat nggak, di awal kuliah saya pernah bilang, my chapter of life as a student will be a life without high heels. That is mostly true: saya jarang2 pakai high heels ke sekolah, kecuali ada presentasi yang menuntut saya berpakaian lebih rapi. Atau saya lagi pengen cecentilan pake sepatu boot saya yang setinggi lutut dan berhak (maksudnya bukan berhak as in berkewajiban ya) 7 senti.
Walaupun saya nggak fashionable amat, walaupun saya nggak langsing2 amat, nggak terawat2 amat seperti seorang artis sinetron berinisial AS yang sedang kuliah di Australia juga, sepertinya seru juga mencatat tentang fashion and beauty saya selama kuliah. Karena biar bagaimanapun, hampir satu dekade saya kerja jadi mbak2 kantoran (istilahnya Trinity “Naked Traveler”) yang punya pakem berpakaian tertentu, pastilah ada perubahan yang cukup signifikan dengan penampilan saya saat saya kuliah. Saya nggak mau lah pakai blazer ke kampus. Tapi tetap pengen kelihatan gaya, nggak harus kelihatan seperti ABG, tapi sesuai umur saya, gitu.
Deuh Neng, makan tuh gayaaaa!!!
Efek “makan gaya” adalah: bawaan saya ke Australia bulan Agustus lalu tuh asli banyak banget! Isinya sebagian besar tentu saja baju, sepatu, dan tas. Depkominfo yang baik hati berhasil dapat tiket pesawat dengan baggage allowance seberat 30kg. Tapi itu pun saya sudah nyaris overweight! Ya saya sadar diri aja, beasiswa pas2an, kan saya nggak mungkin banyak belanja di Adelaide. Jadi perlengkapan perang saya harus dibawa dari sini semua. Beberapa hal yang saya ingat pas berangkat:
Fashion
Saya datang ke Adelaide bulan Agustus, saat winter. Di sana winternya nggak dingin2 amat. Nggak harus pakai winter coat yang super tebal, pakai jaket dan cardigan sudah cukup. Saya sih hobi pakai cardigan dan dalaman tanktop, lalu pakai kalung. Bawahnya cukup jeans tanpa stocking dalaman. Kalau pakai rok, ya pakai stocking lah. Soal jaket, saya sukanya jaket yang agak panjang, biar nggak balapan kalau cardigan saya panjang juga. Tapi jaket pendek juga OK kok kalau pakai jeans.
Seperti kota2 lain di Australia, Adelaide bisa punya four seasons in a day. Alias, cuacanya bisa berganti2 hanya dalam hitungan jam. Ramalan cuaca jadi sahabat saya biar nggak salah kostum. Yang paling aman sih sedia baju berlapis: jaket, baju atau cardigan, dan t-shirt atau tanktop di dalamnya. Kadang saya pakai baju lengan pendek dengan dalaman lengan panjang, seperti gaya mbak2 berjilbab gitu lho. Nanti kalau cuaca dingin, dalaman dan/atau jaketnya dipakai. Atau saat suhu udara naik, saya ke kamar mandi untuk melepas dalamannya.
Musim dingin sih “gampang”: kalau kurang hangat tinggal tambah lapisan baju, beres deh. Yang seru kalau musim panas nih. Masa mau telanjang? Salah2 kulit malah kebakar: ya kebakar matahari, ya kebakar malu juga, hehe. Dan saat teman saya yang orang Amerika atau Filipina pakai tanktop bertali spaghetti ke sekolah, saya kok ngerasa nggak bisa ya mengikuti gaya berpakaian seperti itu.
Saya sih hobinya pakai celana pendek, rok atau dress yang berlengan, panjangnya minimkal sedikit di atas lutut. Kalau suhunya masih seperti di Bandung gitu, nggak terlalu panas, pakai bawahannya legging juga enak. Bahan dress yang nyaman adalah dari kaos, campuran lycra, atau katun seperti -tentunya- batik! Kalau pakai celana pendek juga begitu, saya senang sesekali pakai atasannya batik. Nasionalis, gaya, dan adeeeeemmm…
Untuk aksesorisnya, biar nggak keramean dan pas dengan tema “anak kuliahan” (halah!), saya nggak pernah pakai lebih dari dua macam. Less is more. Kalau sudah pakai kalung, nggak usah pakai anting. Kalau sudah pakai gelang besar, nggak usah pakai cincin besar. Saat musim dingin, bisa juga pakai syal yang selain bikin hangat, juga menggantikan fungsi kalung.
Saran dari orang asli Adelaide sih, sebaiknya musim panas pakai topi untuk menangkal sengatan matahari. Sayangnya saya belum pede pakai topi euy. Kacamata hitam juga penting, sampai2 sebelum berangkat saya pesan kacamata minus dengan lensa warna hitam. Bukan semata2 buat gaya, tapi juga karena sinar mataharinya sangat menyilaukan dan bikin saya pusing. Soal alas kaki, kalau musim panas sih tinggal pakai sandal. Untungnya kampus saya nggak reseh soal pakaian, mau pakai sandal jepit juga boleh2 saja. Saya sih sukanya pakai sepatu flats atau sandal gladiator.
Tiap hari saya bawa laptop ke sekolah. Masalahnya, saya sering bosan pakai ransel. Dan kadang kan tema baju saya nggak cocok dengan ransel. Jadi kadang saya bawa tas model cewe yang agak besar, biar laptop saya berikut bungkusnya bisa masuk situ. Tapi seringnya saya masih harus bawa tas tambahan, semacam tas belanja yang bisa dipakai berulang2, untuk tempat bekal makan siang (saya masak sendiri biar irit). Akhirnya malah seringkali dibalik: bekal dan kabel2 masuk ke handbag, laptop masuk ke tas belanja, hehe.
Beauty
Soal kecantikan sebenarnya sangat erat dengan kesehatan kulit. Apalagi selama jadi mahasiswa, saya hampir nggak pernah pakai foundation kecuali untuk acara resmi. Jadi jelas kan, kulit yang sehat adalah kunci penampilan. Padahal kondisi dan situasi selama kuliah sangat nggak bersahabat buat kulit: udara kering, sering bergadang alias kurang tidur, dan sinar matahari yang sangat terik saat musim panas.
Untuk menjaga kesehatan kulit itu, saya rajin pakai body lotion dan sunblock di badan. Lalu pakai moisturizer merangkap anti aging serum untuk wajah, diikuti sunblock khusus wajah dengan SPF 30. Lingkungan yang kering membuat saya mengantongi lipbalm dan bawa hand cream ke mana2. Dan sebagai salah satu resolusi saya saat ulang tahun, never forget to apply eyecream! Yaaaa.. walaupun saya seorang ibu, punya anak, tapi saya lebih pengen kelihatan seperti mbak2 daripada ibu2. Dengan kata lain: awet muda, hehe.
Terus, gimana sih dandanan saya sehari2? Seperti saya sudah singgung tadi, saya jarang pakai foundation. Paling2 pakai concealer untuk menutupi bekas2 jerawat. Setelah itu pakai bedak tabur dan sedikit blush biar nggak pucat. Di bagian mata, saya cuma pakai eyeliner coklat dan maskara biar mata kelihatan lebih kinclong walaupun kurang tidur. Saya nggak pakai lipstik, cuma pakai lipgloss berwarna natural.
Yang juga penting adalah membentuk alis, karena alis adalah bingkai wajah. Selama ini sih saya selalu membentuk alis sendiri. Tapi kapan2 saya pengen nyoba juga ah, ke tempat “tukang alis” kenalannya teman sekelas saya Shweta. Hasil kerjaannya bagus, nggak terlalu tipis, dan tarifnya murah karena dia “praktek” di rumah.
Intinya, it’s not only about what you wear, but also how you wear it. Duh, emang ribet ya jadi cewe. Tapi saya nikmatin banget kok!
Recent comments
51 weeks 5 days ago
1 year 1 day ago
1 year 3 days ago
1 year 1 week ago
1 year 2 weeks ago
1 year 3 weeks ago
1 year 3 weeks ago
1 year 4 weeks ago
1 year 4 weeks ago
1 year 4 weeks ago